Membangun Karakter Santri di Era Industri 4.0

Perkembangan industri memang sangatlah cepat. Seperti hadirnya era industri 4.0 yang tiba-tiba telah mengubah totalitas konsep hidup dan kerja manusia. Oleh karena itu, sangat penting adanya pesantren yang terus berkembang. Yaitu dengan menghadirkan pesantren yang didesain modern tapi tidak meninggalkan budaya tradisional pesantren yang telah ada.

Seperti itulah pernyataan dari orasi ilmiah Prof. Dr. H. Masykuri Bakri, M.Si., Rektor Universitas Islam Malang (UNISMA) Selasa, 30 April 2019. Beliau juga memberikan apresiasi atas berkembangnya pondok pesantren An-Nur II dalam menghadapi era modernisasi. “Apalagi setelah ini An-Nur II akan meresmikan perguruan tinggi Ma’had Aly dengan jurusan ilmu Fikih Industri,” ungkapnya.

*Lima Modal*

Istilah Daring (dalam jaringan/online), telah memberikan kesempatan bagi kita dalam membuka dunia global. Dunia yang sebelumnya terasa sempit, kini sudah bisa kita pegang menggunakan alat yang bernama smartphone (telepon pintar) dengan basis internet yang lebih luas jangkauannya. Pada masa perkembangan ini, juga tidak memandang entah siapa dibalik sasarannya. Apakah dia inetelek atau tidak, muslim maupun non muslim.

“Karena ilmu pengetahuan itu bersifat liberal, tidak monopoli” tegas Pak Rektor. Untuk itu, sangat diperlukan sekali lembaga pendidikan yang mampu menghadapi era dunia global dengan menetapkan ilmu agama sebagai pembimbingnya. Di dalam menghadapi  era dunia global tersebut. Beliau menyebutkan lima modal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi era revolusi 4.0.

Yang pertama, adalah modal intelektual. Mampu mengedepankan kesadaran dan berpikir secara total adalah prioritas utama yang harus kita kuasai dalam menghadapi revolusi tesebut. Dalam hal ini, beliau meyakinkan dengan beberapa sifat yang memang sudah dimiliki oleh pelajar pesantren yaitu, tawasuth, tasamuh, tawazun, dan ta’adul.

Kedua, meningkatkan kualitas kerja. “Setelah kita berpikir secara matang, maka kita harus langsung bekerja dengan mempunyai tanggung jawab, disiplin, dan tidak mudah puas. Setelah itu, ketiga, adalah cara manajemen yang baik, memiliki visi dan perancangan yang matang dalam meningkatkan kualitas kerja.

Keempat adalah jaringan atau networking, sebagai modal kita dalam masa era globalisasi. “untuk membangun jaringan simbiosis mutualisme. Yakni, bekerja sama dalam bidang riset dan pengembangan sumber daya manusia,” Tambahnya di hadapan ribuan hadirin acara Gelar Wisuda bersama SMA dan MA An-Nur.

Dan yang terakhir, sebagai tanda selesainya orasi tersebut, adalah rasa spiritualitas. seperti sabda Nabi, beliau mencontohkan untuk membaca selawat sebelum bekerja dan menjalankan salat jamaah dengan baik dalam bekerja. “Dari kelima modal tersebutlah menjadi kunci utama untuk dapat mengubah dunia. Dan modal keenam yang akan datang dengan sendiri nya adalah modal finansial, setelah intelektual, kutalitas, manajemen, jaringan, dan spiritualitas tersebut terpenuhi,” pungkasnya di akhir orasi.

(Richi/Media-tech An-Nur II)

Awrad Santri

Tawassul

Waqiah

Istighosah

Yasin&tahlil

Burdah