Sukses di Usia Muda

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan RA, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [HR Bukhari]

Catatan Alvers:

Berbicara sukses di usia muda, nama Gilang mungkin akan terbesit dalam benak banyak orang. Pemilik perusahaan transportasi ini, di usianya yang baru 31 tahun sudah bisa membeli sebuah pesawat jet pribadi seharga 280 MilIar, belum lagi villa pribadi dan koleksi mobil supercarnya. Crazy rich asal Kota Malang, Jawa Timur tersebut berhasil meraih kesuksesan dalam usahanya meskipun dia bukan keturunan orang kaya. [idxchannel.com]

Dalam artikel ini, sukses yang dimaksud bukanlah sukses dalam bidang pekerjaan, namun sukses dalam menuntut ilmu agama. Mengapa demikian? Karena orang yang paham dalam urusan agama ia akan mendapatkan kebaikan dari Allah swt sebagaimana hadis utama di atas.

Membicarakan sukses dalam menuntut ilmu agama di usia muda, maka teladannya adalah Abdullah ibnu Abbas. Umar RA berkata: Sebaik-baik penafsir Al-Quran adalah Abdullah ibnu Abbas. Ketika beliau datang, maka Umar berkata:

جَاءَ فَتىَ الْكُهُوْلِ وَذُو اللِّسَانِ السَّئوُلِ وَالْقَلْبِ الْعَقُوْلِ

“Telah datang pemuda yang dewasa, pemilik lisan yang banyak menjawab pertanyaan dan hati yang cerdas berakal. [Al-Mustadrak]

Ketika beliau wafat, maka semua merasa kehilangannya. Mujahid berkata:

مَا رَأَيْتُ مِثْلَ ابْنِ عَبَّاسٍ قَطُّ ، وَلَقَدْ مَاتَ يَوْمَ مَاتَ وَهُوَ حَبْرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ

“Aku tidak pernah melihat sosok seperti Abdullah ibnu Abbas, Ia wafat ketika itu ia adalah ‘Habr Hadzihil Ummah’ (orang yang alim lagi luas wawasannya) dari ummat ini.” [Al-Mustadrak]

Umar RA memasukkan Abdullah ibnu Abbas yang masih muda saat itu ke dalam golongan “Asyakhi Badr” (sahabat-sahabat senior veteran perang Badar). Maka sebagian dari mereka mempertanyakan keberadaannya dan bertanya: “Mengapa pemuda ini masuk beserta kita, sedangkan kita mempunyai anak-anak yang sebaya umurnya dengannya?” Umar pun menjawab:

إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ

“Sungguh, ia adalah sebagian dari orang yang kalian ketahui (diasuh dalam rumah kenabian).”

Suatu ketika, Umar ingin memperlihatkan kelebihan Abdullah. Umar berkata: “Bagaimanakah pendapat saudara-saudara mengenai firman Allah “Idza Ja’a Nashrullah (Jikalau telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) dst….”

Maka sebagian para sahabat senior berkata: “Maksudnya ialah, kita diperintah supaya memuji kepada Allah serta memohonkan pengampunan dari-Nya jikalau kita diberi pertolongan serta kemenangan.”

Sebagian yang lain diam saja. Umar lalu berkata kepada Abdullah: “Apakah seperti itu wahai Ibnu Abbas?”

Abdullah menjawab: “Tidak.” Ayat tersebut menunjukkan tentang ajal (masa wafat) Rasulullah SAW, Allah telah memberitahukan pada beliau tentang dekatnya ajal beliau. Jadi Allah berfirman yang artinya: “Jikalau telah datang pertolongan dari Allah serta kemenangan,” maka yang demikian itu adalah sebagai tanda datangnya ajalmu. Oleh sebab itu, maka sucikanlah dengan mengucapkan puji-pujian kepada Tuhanmu dan mohonlah pengampunan padaNya, sesungguhnya Allah adalah Maha Penerima taubat.” Umar RA lalu berkata:

مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعْلَمُ

“Aku tidak mengetahuinya melainkan dari apa yang telah engkau ketahui itu.” [HR Bukhari]

Abdullah ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah dan beliau berumur tiga belas Tahun ketika Rasul SAW wafat. [Al-Bidayah Wan Nihayah] Beliau hijrah bersama kedua orangtuanya pada tahun Fathu Makkah (8 H) dan masuk Islam sebelumnya. Beliau Menemani (melayani dan menimba Ilmu dari) Nabi SAW selama kurang lebih 30 Bulan. Hadis yang berhasil beliau kumpulkan berjumlah 1.660 hadis. [Siyar A’lamin Nubala]

Kesuksesannya dalam menuntut ilmu tidak lepas dari rida dan doa sang guru, yaitu Nabi SAW. Suatu ketika, Rasul Saw masuk ke dalam jamban dan sekeluarnya beliau menemukan air wudu tersedia tanpa beliau memintanya. Sehingga beliau bertanya-tanya, siapakah yang menyediakan air tersebut. Setelah dikabarkan bahwa orang yang menaruh air tesebut adalah Abdullah ibnu Abbas, maka beliau mendoakannya

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama.”  [HR Bukhari]

Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa Rasul menaruh tangan beliau di atas pundak Abdullah ibnu Abbas seraya mendoakannya:

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ

“Ya Allah, pahamkanlah ia dalam urusan agama dan ajarkanlah ia tafsir Quran.” [HR Ahmad]

Beliau juga orang yang sangat menghormati para ulama saat itu. Suatu ketika, sahabat Nabi senior, Zaid bin tsabit RA datang dengan mengendarai (kuda), lalu Abdullah memegangi tali pelana untuk memudahkan Zaid turun. Zaid pun berkata: Jangan kau lakukan ini wahai anak dari paman Rasul SAW. Mendengar hal itu, Abdullah berkata:

هَكَذَا أُمِرْنَا أَنْ نَفْعَلَ بِعُلَمَائِنَا

“Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami.” [Faidlul Qadir]

“Di samping kegigihannya dalam menuntut ilmu yang tak kenal waktu siang maupun malam, beliau adalah seorang murid yang tawadlu’ (rendah hati). Pernah satu saat, dimana Abdullah mendatangi Rasul pada akhir malam kemudian ia salat di belakang beliau. Rasul menariknya dan menjadikannya pada posisi sejajar dengan beliau. Ketika salat sudah dimulai, maka Abdullah mundur. Setelah selesai salat, Rasul mempertanyakan apa yang dilakukannya. Abdullah pun menjawab :

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَيَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يُصَلِّيَ حِذَاءَكَ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ الَّذِي أَعْطَاكَ اللَّهُ

“Wahai Rasulullah, apakah pantas bagi seseorang untuk salat sejajar denganmu, sedangkan engkau adalah utusan Allah yang diberikan anugerah oleh Allah?”

“Mendengar jawaban ini, Beliau kagum kepadanya, lalu beliau berdoa untuknya agar Allah menambahkan ilmu dan pemahaman kepadanya.” [HR Ahmad]

Dalam menuntut ilmu, beliau sabar dan tidak pernah merasa risih apalagi malu untuk menuntut ilmu dari orang yang sejajar bahkan dibawahnya. Itulah wujud menghargai ilmu. Pasca wafatnya Nabi, Abdullah ibnu Abbas terus menuntut ilmu dari para sahabat yang lain dan ia tidak memperdulikan keberadaannya sebagai sahabat Nabi yang juga dibutuhkan oleh masyarakat saat itu.

Jika ia mendengar ada satu hadis pada seorang sahabat maka ia mendatanginya pada waktu siang, hari dimana sahabat tersebut sedang istirahat siang. Ia pun menunggu dengan sabar di depan pintu rumahnya. Ia menjadikan selendang yang dikenakannya sebagai alas dan angin pun berhembus dengan debu beterbangan. Ketika keluar, sahabat nabi itu berkata :

يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَا جَاءَ بِكَ؟ هَلَا أَرْسَلْتَ إِلَيَّ فَآتِيَكَ؟

“Wahai misanan Nabi SAW, Ada apa gerangan? Jika ada keperluan denganku, kirimlah orang kepadaku agar aku mendatangimu?”

Abdullah menjawab: “Oh tidak, akulah yang lebih pantas mendatangimu”.  Iapun menanyakan hadis yang dicarinya.” [Al-Mustadrak Lil Hakim]

Selanjutnya adalah parfum tak luput menjadi salah satu faktor yang menyebabkan sukses dalam menuntut ilmu. Imam As-Syafi’i berkata:

مَنْ نَظُفَ ثَوْبُهُ قَلَّ هَمُّهُ وَمَنْ طَابَ رِيْحُهُ زَادَ عَقْلُهُ

“Barang siapa yang bersih bajunya maka sedikit susahnya, dan barangsiapa yang harum baunya, maka akan bertambah akalnya.” [Fathul Muin]

Dan Ikrimah menceritakan bahwa jika ibnu Abbas telah melewati satu jalan maka para wanita saat itu berkata :

أَمَرَّ الْمِسْكُ، أَمْ مَرَّ ابْنُ عَبَّاسٍ ؟

“Apakah minyak misik yang melewati kita, ataukah Ibnu Abbas? [Siyar A’lamin Nubala]

Wallahu A’lam. Semoga Allah al-Bari membuka hati dan fikiran kita untuk senantiasa semangat menuntut ilmu dan memuliakan ahlinya.

Salam Satu Hadis

Dr. H. Fathul Bari, SS, M. Ag

Pondok Pesantren Wisata

AN-NUR 2, Malang, Jatim

Ngaji dan Belajar Berasa di Tempat Wisata

Ayo Mondok! Mondok Itu Keren!

NB

Ballighu Anni Walau Ayah” Silahkan Share sebanyak-banyaknya kepada semua grup yang ada. Al-Hafidz Ibnul Jawzi berkata: “Barang siapa yang ingin amalnya tidak terputus setelah ia wafat maka sebarkanlah ilmu (agama).” [At-Tadzkirah Wal Wa’dh]

Awrad Santri

Tawassul

Waqiah

Istighosah

Yasin&tahlil

Burdah