Kunjungan MI Nurul Huda: Menghilangkan Stigma “Pesantren Menyeramkan”

Menghilangkan stigma “Pesantren Menyeramkan”

Senin, 26 September 2022, Madrasah Ibtidaiyah Nurul Huda, Blitar, berkunjung ke Pondok Pesantren An-Nur II “Al-Murtadlo” guna melakukan studi banding. Kegiatan tersebut melibatkan 85 pelajar dan 15 guru pendamping. Rombongan yang terbagi menjadi dua bis tersebut sampai di An-Nur 2 pukul 09.10 WIB di depan Office Center An-Nur 2.

Di awal kedatangan mereka, pihak pondok pesantren mengarahkan rombongan menuju Raudlah, makam pengasuh pertama, Almagfurlah Romo KH. M. Badruddin Anwar. Dengan kostum atasan hitam dan bawahan putih bagi siswa, biru muda bagi pendamping, mereka bertolak menuju raudlah untuk membaca tahlil.

Selepas membaca tahlil, para rombongan menuju Pendopo Al-Badari, di selatan Raudlah, guna mengikuti rangkaian acara selanjutnya. Sembari menunggu kedatangan Kiai Fathul Bari, tamu rombongan bersantai, menikmati suguhan yang tersedia, sambil menonton video profil Pondok Pesantren An-Nur II.

Tak lama Kiai Fathul Bari datang, operator mematikan video, dan MC mengambil alih jalannya acara.

Pesantren Bukan Tempat yang Menyeramkan

Setelah membuka acara, MC mempersilakan ketua rombongan, Bapak W.S. Fatoni, untuk memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih kepada pondok pesantren, karena telah menerima kunjungan dari MI Nurul Huda, Blitar, dengan ramah dan baik. Beliau juga meminta maaf seandainya kunjungan yang terlaksana merepotkan pihak pondok pesantren.

Lebih lanjut beliau menjelaskan maksud kunjungan dari MI Nurul Huda, Blitar. “Agar siswa MI Nurul Huda bisa mondok di An-Nur 2, karena kakak kelasnya ada beberapa yang sudah di sini,” ungkapnya.

Beliau juga ingin membuktikan bahwa stigma “pondok pesantren itu menyeramkan” itu salah. “Juga menunjukkan kepada para siswa, bahwa pondok itu bukan tempat yang menyeramkan. Kita juga harus lebih mencintai pesantren,” ungkap bapak Fatoni.
Di akhir sambutan beliau meminta doa restu, semoga bisa melanjutkan kegiatan dengan lancar.

Kiai Fathul: Pesantren Bukan “Penjara Suci”

Kiai Fathul kini memberikan sambutan. Dalam sambutannya, beliau juga membahas stigma “pondok pesantren itu menyeramkan”.

Beliau kurang cocok dengan istilah “Penjara Suci” yang tersebar di kalangan santri, untuk mengistilahkan pesantren. Istilah seperti ini justru menimbulkan stigma terhadap pesantren, karena meskipun suci, jika itu penjara , akan tetap menyeramkan. “Penjara Suci, meskipun suci, kalau penjara ya tetep menyeramkan,” ucap Kiai Fathul.

Belakangan ini stigma tersebut kian menjadi karena adanya berita-berita miring tentang pesantren. Sehingga banyak orang tua yang berpikir dua kali untuk memasukkan anaknya ke pesantren, bahkan para anak juga menolak untuk melanjutkan pendidikan di pesantren.

Kiai Fathul mengungkapkan, orang tua yang sayang kepada anaknya dunia-akhirat, pasti akan menjadikan pesantren sebagai destinasi pendidikan. “Kalau masuk pondok harus bersyukur, jangan protes. Itu tandanya orang tua kalian sayang kepada kalian dunia-akhirat,” ungkap Kiai Fathul.

Lebih lanjut Kiai Fathul memaparkan beberapa manfaat belajar di pesantren. “Kalau di rumah ketemu bestinya cuma beberapa jam, kalau mondok ketemu bestinya 24 jam,” ungkap Kiai Fathul.

Setelah Kiai Fathul rampung menyampaikan sambutan, beliau membacakan doa sebagai penutupnya. Kedua pihak lalu saling bertukar cendera mata, dan acara berlanjut menuju pengenalan lingkungan pesantren. Sebelum menjelajahi lingkungan An-Nur 2, pihak pondok memberikan konsumsi kepada para rombongan.

Jelajah Pesantren

Para siswa berbaris membentuk 4 barisan di utara Office Center An-Nur 2. Kegiatan jelajah pesantren ini bertujuan agar rombongan mengetahui bahwa lingkungan An-Nur 2 jauh dari kata menyeramkan. Selama kegiatan jelajah pesantren para pelajar MI Nurul Huda terlihat menikmati dan antusias namun tetap menjaga ketertiban.

Setelah puas berkeliling pondok pesantren, seputar pondok putri, kelas alam dan Taman Qurratul ‘Uyun, para tamu bertolak menuju masjid untuk salat zuhur secara berjemaah.

Pihak MI Nurul Huda mengaku senang dan bangga karena ada lembaga yang satu aliran dengannya, Ahlussunnah Wal Jamaah, dan jauh dari kesan menyeramkan. “Alhadulillah. Kami senang dan bangga karena An-Nur 2 satu aliran dengan kami, dan juga jauh dari kesan menyeramkan,” ungkap bapak W.S. Fatoni, ketua rombongan MI Nurul Huda, saat wawancara.

Seorang siswi mengungkapkan kesenangannya selama berkunjung ke An-Nur 2. “Menyenangkan, seru, soalnya lingkungannya bersih dan luas,” ungkap salah satu siswi MI Nurul Huda. Pihak MI Nurul Huda berharap, semoga di masa mendatang Pondok Pesantren An-Nur 2 tetap memberikan manfaat kepada masyarakat luas.

(Muhammad Abror S/Mediatech)

Awrad Santri

Tawassul

Waqiah

Istighosah

Yasin&tahlil

Burdah